PELAIHARI POST

Editorial

Minyak Tanah Langka, Rakyat Merana

Senin, 04 Februari 2013, 23:31:07 wita
Minyak Tanah Langka, Rakyat Merana

Antri Minyak Tanah

PELAIHARI POST 電 Kejadian kelangkaan minyak tanah, bisa jadi kurang begitu menarik perhatian. Dianggap sebagai isu yang biasa saja. Di kalangan para aktivis, isu-isu yang biasanya kurang begitu menarik, kerap disebut “kurang seksi”, tidak menggigit atau berdaya tekan rendah.

Bisa jadi memang, isu kelangkaan atau melambungnya harga minyak tanah, isu yang kurang seksi, tidak menggigit atau berdaya tekan rendah. Hal ini, bila dilihat dari sejauhmana pihak-pihak yang menjadi dampak, kurang memiliki potensi untuk dijadikan instrumen dalam rangka legitimasi ataupun oposional terhadap kebijakan publik. Dalam bahasa anak muda: “nggak ngaruh”. Dengan maksud yang sama bisa dikatakan: sekeras apapun jeritan derita yang disuarakan nyaris tidak terdengar.

Tetapi, dalam rentang waktu dimana terjadi titik jenuh atau pada skala masif, isu yang kurang seksi sekalipun akan memiliki potensi besar bagi sebuah gerakan oposional kebijakan publik. Yang semula berpangkal pada krisis kepercayaan terhadap pengelolaan ketersediaan barang dan jasa bermetomorfosis menjadi krisis kepercayaan pengelolaan pemerintahan.

Terkait dengan kelangkaan dan melambungnya harga minyak tanah, terlepas merupakan isu seksi atau kurang seksi, yang jelas berakibat pada kesulitan hidup masyarakat. Harga yang mahal, menambah biaya belanja rumah tangga. Bila terjadi kelangkaan, maka harus mendapatkan pengganti, yang terkadang berbiaya tinggi. Satu hal yang terdengar aneh, pada kasus kapal nelayan, kapal yang semula menggunakan bahan bakar solar, dikreasikan sedemikian rupa, oleh nelayan sehingga bisa berbahan bakar minyak tanah. Semata-mata, pertimbangan biaya operasional, lebih murah.

Ternyata, minyak tanah tidak semata-mata terkait dengan hal ikhwal masak memasak. Hal ini, tentu saja, seharusnya menjadi pertimbangan bagaimana nantinya nasib program konversi minyak tanah ke LPG. Mungkinkah kapal-kapal yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan keluarga nelayan, harus dimodifikasi kembali, agar selaras dengan konversi ke LPG. Sedangkan sebelumnya, para nelayan, dengan kelihaiannya, telah sukses memodifikasi, kapal berbahan bakar minyak tanah.

Minyak tanah merupakan bahan bakar yang masih disubsidi pemerintah. Oleh karena itu, spekulasi terhadap kelangkaan ataupun melambungnya minyak tanah ini, bisa bermacam-macam. Satu sama lain, bisa saja, saling menyalahkan. Tetapi, yang paling penting adalah melakukan langkah agar kelangkaan atau melambungnya harga minyak tanah bisa teratasi.

Pengawasan terhadap agen dan pangkalan dalam mendistribusikan minyak tanah kepada warga yang seharusnya berhak atas subsidi BBM perlu dilakukan, tidak semata-mata seremonial, atau sekedar dalam rangka pemenuhan kelengkapan administratif semata. Masyarakat hendaknya memperoleh kepastian dengan tenang atas ketersediaan dan keterjangkauan minyak tanah. Karena pengguna minyak tanah, terutama untuk kebutuhan rumah tangga, adalah keluarga yang kurang layak. Mereka ini, jika minyak tanah langka, ia merana.

Berita terkait  
tag:minyak,tanah,langka

Ribuan Warga Kecamatan Takisung Ikuti Jalan Santai
Jum'at, 22 Desember 2017, 23:17:29 wita

Pembukaan Pameran Tala Expo 2017 Ditandai Pelepasan Balon
Jum'at, 01 Desember 2017, 19:39:31 wita

Nelayan di Desa Batakan Keluhkan Kelangkaan Bahan Bakar
Jum'at, 20 Oktober 2017, 20:55:49 wita