PELAIHARI POST

Artikel

Pendidikan Nasional dan Globalisasi (Sebuah Analis Konsep dan Kebijakan)

Rabu, 06 Februari 2013, 08:55:27 wita
Pendidikan Nasional dan Globalisasi (Sebuah Analis Konsep dan Kebijakan)

Suhartini M.Pd (Mahasiswa S3 UNJ asal Pelaihari).

PELAIHARI POST 電 Sejak menyatakan diri sebagai sebuah negara merdeka, “founding fathers” kita telah menyadari betapa pentingnya kecerdasan sebagai sebuah esensi Sumber Daya Manusia bagi masa depan bangsa. Sehingga kalimat pernyataan “mencerdaskan kehidupan bangsa” menjadi salah satu alasan dalam Pembukaan UUD 1945, mengapa bangsa ini harus menyatakan kemerdekaannya; dan mengapa negara Kesatuan Republik Indonesia ini didirikan.

Konsep mencerdaskan kehidupan bangsa, merupakan amanah UUD 1945 yang langsung menjadi tugas pokok dan fungsi Kementerian Pendidikan Nasional. Namun perjalanan sejarah negeri ini membuktikan bahwa, usaha “mencerdaskan kehidupan bangsa” pada pelaksanaannya, mengalami berbagai perubahan kebijakan yang nyatanya hanya didasarkan kepada kemauan politis – bukan didasarkan kepada pelaksanaan research implementation dan pelaksanaan amanah pembukaan UUD 1945 itu sendiri. Usaha “mencerdaskan kehidupan bangsa” dimaksudkan oleh UUD 1945, lebih berorientasi pada investasi SDM (human investment). Yaitu investasi SDM yang mampu menggerakkan roda pembangunan bangsa, dan mampu menghadapi tantangan persaingan global dengan berbagai perubahannya yang cepat dan dinamis. Namun prinsip pelaksanaanya tetap berdasarkan kepada prinsip nilai yang sudah ada – dalam hal ini nilai budaya yang didukung oleh kondisi lingkungan yang tersedia. Dengan demikian untuk mengantarkan manusia Indonesia menuju masyarakat modern seperti yang kita harapkan, tentunya tidak hanya memerlukan keahlian, keterampilan dan penguasaan ilmu dan teknologi semata, tetapi memerlukan suatu sistem nilai budaya yang ditranspormasikan melalui sistem pendidikan nasional.

Dimasa lalu, kebijakan pendidikan nasional - dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa – diatur dan dilaksanakan secara terpusat. Sehingga terjadi proses homogenitas penyelenggaraan pendidikan – mulai dari system, organisasi dan bahkan sampai kepada bahan belajar dilaksanakan dan didrop dari pusat – yang membuat anak didik menjadi asing dari lingkungan alamnya sendiri. Dengan kondisi dan situasi belajar seperti ini membuat anak didik tercabut dari akar budaya, lingkungan fisik dan sosial masyarakatnya. Akhirnya terjadi proses penekanan yang berlebihan pada dimensi kognitif, yang tanpa tersadari telah mengabaikan dimensi-dimensi lain yang sangat signifikan terhadap pembentukan manusia sebagai sumber daya pembangunan dan masa depan bangsa. Akibat yang paling fatal adalah, lulusan dari sistem pendidikan seperti ini umumnya menjadi pencari kerja – kalau mereka bekerja atau mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan hasil belajar mereka itu adalah merupakan faktor keberuntungan. Hal ini terjadi karena proses pembelajaran yang mereka terima disekolah sama sekali tidak bersentuhan dengan potensi lingkungan fisik, sosial budaya masyarakat dan sumber daya alam dimana peserta didik hidup dan dibesarkan. Jadi sebesar apapun potensi dan peluang berusaha yang tersedia dalam lingkungan fisik dan sosial budaya mereka, mereka cendrung tidak bisa memanfaatkannya.

Berita terkait  
tag:penkan,nasional,dan