PELAIHARI POST

Editorial

Derita Karyawan PT. HRB, Sampai Kapan?

Jum'at, 15 Februari 2013, 07:20:48 wita
Derita Karyawan PT. HRB, Sampai Kapan?

Lapar

PELAIHARI POST 電 Derita para karyawan PT. Hutan Rindang Banua (PT. HRB) sesungguhnya sudah sangat memprihatinkan. Empat bulan tidak menerima gaji, beberapa buruh terpaksa makan daun singkong. Hutangnya, ada di mana-mana. Tunjangan kesehatan, sejak tahun 2008 sampai sekarang, juga belum terbayar.

Kondisi seperti ini tentu semakin parah, bila ada keluarga yang sakit, perlu biaya anak sekolah dan biaya lainnya yang tak terduga. Beberapa sepeda motor yang dibeli secara kredit oleh karyawan, ditarik leasing karena tak mampu membayar angsuran. Barang-barang elektronik yang dibeli secara kredit juga ditarik oleh penjualnya.

Mogok kerja yang dilakukan sampai saat ini masih menjadi pilihan. Selain dilaksanakan secara damai, tuntutan yang diajukan juga sangat normatif yaitu gaji dan tunjangan kesehatan yang belum terbayarkan. Pemerintah Daerah dalam hal ini Disnakertransos Kabupaten Tanah Laut telah melakukan usaha untuk menyelesaikan permasalahan buruh, dengan berkirim surat kepada pihak managemen perusahaan. Tetapi belum juga kunjung terselesaikan.

Permasalahan karyawan dengan pihak managemen di PT. HRB ini sejatinya sangat pelik, karena pihak managemen perusahaan berada di Singapura. Tentu tidaklah mudah bagi pihak Disnakertransos untuk menghadirkan pihak managemen perusahaan ke Tanah Laut, sebagai langkah mediasi persoalan perburuhan pada PT. HRB tersebut.

Meskipun demikian bukan berarti usaha penyelesaian persoalan perburuhan di PT HRB berada di jalan buntu. Masih ada kemungkinan pihak managemen untuk bersedia ke Kabupaten Tanah Laut, mengingat aset perusahaan yang ada di Asam-Asam nilainya tidaklah sedikit dan masih dibiarkan tak terurus.

Hal yang sangat mendesak dari persoalan ini adalah soal hajat hidup karyawan PT. HRB yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Pemerintah Daerah perlu mengambil langkah-langkah aktif, mencari terobosan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk sekedar mengatasi problem mendasar dari hajat hidup karyawan. Terobosan ini, bisa saja masih terkait hubungan ketenagakerjaan ataupun penanggulangan problem hajat hidup karyawan sebagai bentuk kepedulian sosial.


Berita terkait  
tag:derita,karyawan,pt

Danau PTP XIII kembali menelan korban
Minggu, 09 Oktober 2016, 22:51:19 wita

CV. Adhi Cipta Mandiri
Selasa, 12 Januari 2016, 19:56:30 wita