PELAIHARI POST

Artikel

Pendidikan Akhlak Siswa Di Era Kemajuan Iptek

Jum'at, 22 Februari 2013, 04:17:40 wita
Pendidikan Akhlak Siswa Di Era Kemajuan Iptek

M. Arifin

PELAIHARI POST 電 Oleh Muhammad Arifin (Guru SLTPN 1 Kintap Kabupaten Tanah Laut)

Pendidikan adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dengan pendidikanlah yang dapat membentuk manusia mempunyai ilmu pengetahuan, berkepribadian yang luhur dan mempunyai keterampilan. Dalam undang-undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional bahwa : “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Adapun bentuk tanggung jawab Pendidikan Akhlak bagi siswa sekarang ini salah satunya adalah mempersiapkan generasi yang tangguh, mandiri, berkepribadian yang luhur, serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu diperlukan suatu kerja sama yang seimbang antara Pembinaan akhlak oleh orang tua, guru, dan masyarakat sekitar. Mereka harus menyadari bahwa pembinaan akhlak itu terpikul dipundak mereka. Sekarang ini kerusakan akhlak semakin hari semakin memperihatinkan, tidak saja dilakukan oleh orang dewasa, para remaja, bahkan sampai pada anak –anak tingkat Sekolah Dasar. Hal ini dapat kita perhatikan dalam tingkah laku keseharian mereka seperti adanya beberapa siswa yang merokok, dan bahkan ada yang meminum obat batuk yang mengandung bahan-bahan memabukan jika di konsumsi melebihi dosis yang dianjurkan, kurang hormat terhadap guru, berkata kasar, sering melanggar tata tertib sekolah, bahkan melanggar ajaran-ajaran agama lainnya.

Budaya malu di sekolah pun kian hari semakin berkurang dan etika siswa kepada guru pun menurun derastis, hal ini dapat langsung kita lihat, seperti budaya cium tangan yang dilakukan oleh siswa. Kalau dulu mencium tangan guru menggunakan hidung, akan tetapi seiring berkembangnya zaman dan majunya teknologi budaya cium tangan oleh siswa tidak menggunakan hidung lagi, akan tetapi sering kali mereka mencium tangan guru menggunakan pipi atau bahkan tangan gurunya di letakan di atas dahi/ kepala anak didik. Hal lain yang dapat kita lihat secara langsung tentang kerusakan akhlak adalah banyaknya siswa yang mengenal istilah “Pacaran”. Mungkin saat ini itu adalah menjadi kebanggan. Tidak hanya anak-anak Sekolah Menengah Atas, akan tetapi anak-anak Sekolah Dasar pun sudah mengenal istilah itu. Mereka tidak malu apabila pulang sekolah boncengan layaknya suami-isteri, bahkan apabila ada yang melihat mereka bangga.

Kerusakan akhlak semacam ini salah satu penyebabnya adalah dampak dari kemajuan Teknologi baik Televisi, Handphone sampai penggunaan Internet yang lepas dari kontrol/ pengawasan orang tua. Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah kurangnya pembinaan akhlak dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Bagi orang tua yang baik, mereka haruslah bisa mengontrol tingkah laku anaknya, sebab pembinaan akhlak lebih banyak terfokus di lingkungan rumah tangga dan masyarakat dibandingkan disekolah. Banyangkan saja anak-anak bersekolah dari jam 7.45 s/d 13.00, atau sekitar 5 Jam 15 menit, sedangakan sisa waktunya mereka habiskan di rumah dan dimasyarakat. Sebaliknya sebagai seorang guru yang baik pembinaan akhlak tidak hanya dibebankan kepada guru Pendidikan Agama atau Guru BP/ BK saja, melainkan semua guru harus ikut berperan aktif, baik melalui implementasi nilai-nilai akhlak melalui mata pelajaran umum, terlebih lagi seorang guru bisa memberikan teladan percontohan bagi siswanya, dan jangan sampai seorang guru hanya bisa memberikan nasehat tentang tata cara berakhlak yang baik tetapi guru tersebut tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-sehari.

Bagi sekolah banyak cara yang bisa dilakukan untuk membina akhlak siswa, diantaranya pertama memberikan Pendidikan Agama yang lebih maksimal yang meliputi keimanan, ibadah, alqur’an, akhlak, syariah, muamalah, dan tarikh. Kedua dengan memberikan nasehat-nasehat oleh semua guru, tidak hanya guru Pendidikan Agama dan guru BP/ BK saja. Ketiga Keteladanan, tidak sedikit guru hanya mengajar dan memberi nasehat sampai mulut dan lidahnya saja, dengan kata lain apa yang diajarakan dan dinasehatkan guru kepada siswa hendaknya gurunya lah yang lebih dulu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga para siswa dapat meneladaninya. Keempat kerjasama dengan pihak orang tua, guru disekolah tidak sepenuhnya membina akhlak dan moral siswa, sebab waktu belajar di sekolah sifatnya terbatas. Oleh karena itu guru semestinya aktif menerima perhatian orang tua akan perkembangan anak-anaknya. Kelima melalui sanksi edukatif. Hukuman boleh saja kita berikan kepada siswa yang bermasalah, Akan tetapi hukuman disekolah dibuat bukan sebagai pembalasan dendam, tetapi untuk memperbaiki anak-anak yang dihukum dan melindungi murid-murid yang lain dari kesalahan yang sama.

Berita terkait  
tag:penkan,akhlak,siswa