PELAIHARI POST

Editorial

Transmigrasi dan Mentalitas “Hijrah”

Jum'at, 22 Februari 2013, 05:36:25 wita
Transmigrasi dan Mentalitas “Hijrah”

transmigran

PELAIHARI POST 電 Ketika masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, yang biasa dipanggil Bang Yos, menyampaikan gagasan program transmigrasi bagi warga korban banjir di Bantaran Sungai Ciliwung. Semua warga menolak tawaran Bang Yos itu. Warga bantaran tetap memilih tinggal di Jakarta meski harus menanggung resiko dari sungai Ciliwung, daripada ditransmigrasikan. Tampaknya transmigrasi merupakan kata yang menakutkan bagi warga korban banjir di bantaran Sungai Ciliwung itu.

Ternyata fenomena transmigrasi bagi masyarakat tidaklah semata-mata terkait dengan kebutuhan tempat tinggal maupun ketercukupan sumber pendapatan. Terkadang hal-hal yang berkaitan dengan kultur menjadi faktor penting bagi seseorang untuk benar-benar bersedia menjadi seorang transmigran. Dalam konteks ini maka trasmigrasi terkait dengan mentalitas “hijrah”, perubahan bahkan kesediaan diri untuk berada dalam ketidakmenentuan.

Kemunculan transmigrasi seringkali dikaitkan dengan program pemerintah terkait dengan kebijakan kependudukan. Padahal banyak unsur-unsur yang saling tali temali di dalamnya baik dari aspek ekonomi, sosiologis bahkan hal-hal yang terkait dengan kebijakan geopolitik negara.

Kondisi tidak menentu yang dialami warga transmigran di Sungai Pinang perlu penanganan segera. Ketidakjelasan penangannya jelas akan memunculkan potret yang kurang baik dalam pengelolaan pembangunan di suatu daerah. Bagi warga transmigran tentu saja tidak bisa ditunda-tunda, karena terkait dengan kehidupan bagi mereka. Kebutuhan perumahan dan sumber pendapatan bagi warga transmigrasi merupakan hal yang paling mendasar. Bukankah itu telah dijanjikan sebelumnya. Sehingga bila kenyataannya kemudian tidak sesuai dengan yang janjikan sebelumnya, jelas menimbulkan kekecewaan yang mendalam.

Pemberian bantuan kepada warga transmigran memang patut dihargai, tetapi bila ditujukan secara khusus kepada seseorang yang berasal dari daerah tertentu saja, akan menimbulkan problem baru, bila yang lainnya tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Oleh karena itu, penyelesaiaanya pun haruslah bersifat menyeluruh dan menyelesaikan akar persoalan. Sikap saling lempar tanggung jawab, dari pengelola pemerintahan ini seharusnya tidak terjadi, akan tetapi masing-masing melakukan sinergi satu dengan lainnya. Masih banyak cerita dan succes story dunia pertransmigrasian di tanah air ini termasuk di Tanah Laut. Karenanya, jangan sampai hal ini menjadi “setitik nila yang bisa merusak susu sebelanga’.


Berita terkait  
tag:transmigrasi,dan,mentalitas