PELAIHARI POST

Sosok dan Tokoh

Meski Cacat, Ia Siap Terima Panggilan

Jum'at, 22 Februari 2013, 06:40:13 wita
Meski Cacat, Ia Siap Terima Panggilan

Aban, Tukang Service dan Tambal Ban

PELAIHARI POSTPelaihari Post . Cacat fisik tidak berarti harus tinggal dirumah minder dan takut sama orang lain dan tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan selalu mengharapkan bantuan dari orang lain. Hal ini tidak terjadi pada diri pak Aban (45) yang tinggal di jalan perintis II Rt 16 Kampung Sawahan Kelurahan Pelaihari Kecamatan Pelaihari. Ia sudah 15 tahun yang menjalani pekerjaan sebagai tukan tambal ban dan service sepeda motor.

Sebelumnya ia tinggal di Kecamatan Kintap, Sebamban 2 Blok F. Pada waktu kecil ia, ikut kakaknya membantu pekerjaan sebagai tukang tambal sulam jaring ikan. Sebelumnya, ia tidak pernah berpikir, kalau bisa tinggal dalam waktu lama di Pelaihari. Awal kepergiannya ke Pelaihari bermula dari seorang teman yang bekerja sebagai nelayan di Sebamban. Ia bernama Amat, yang mengatakan kepadanya kalau mau merubah nasib, untuk lebih maju, harus pergi ke pelaihari.

“Ini yang memotivasi saya untuk pindah ke Pelaihari dari Sebamban. Umur saya waktu itu sudah 25 tahun. Saya tidak mempunyai keahlian apa-apa. Alhamdulilah ada kenalan yang sama-sama cacat fisik, menggenalkan saya kepada petugas dari Dinas Sosial. Saya di suruh ikut kursus, bagi orang cacat fisik di BLK. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1992. Waktu itu, saya mengikuti kursus service sepeda motor”, ujarnya.

Setelah selesai kursus, Aban memberanikan diri membuka service sepeda motor dan tambal ban di jalan taqwa, dekat masjid Suhada. Untuk menjalankan aktifitas kerjanya, ia menggunakan sepeda motor khusus yang telah dimodifikasinya. Sepeda motor tersebut, desainnya dibuatkan oleh temannya yang sama-sama cacat, yang juga buka bengkel. Sepeda motor yang dimilikinya, terhitung sudah hampir sepuluh tahun menemaninya.

Setelah usahanya berjalan lancar, ia pun memutuskan untuk berumah tangga. Ia menikahi seorang gadis Pelaihari bernama Barsinah. Dari perkawinan ini, dikaruniai anak perempuan bernama Masitah yang saat ini sedang menempuh kuliah di IAIN Banjarmasin di Semester lima. “Perkawinan saya dengan Barsinah tidak bisa berumur panjang, karena Barsinah di panggil Yang Kuasa. Setelah lama menduda, sekarang saya sudah menikah lagi dengan Khayatul Lupus (40)”, tuturnya.

. Kegiatan usaha tambal ban dan Bengkel berjalan yang sedang digelutinya saat ini sudah mendapatkan pelanggan. Dalam tiga tahun terakhir ini, ia sering mangkal di depan Toko Rusli, Bundaran Tugu Pelaihari. “Di Toko itu, saya tidak dipungut biaya. Karena toko tersebut menjual alat-alat sepeda motor, kalau ada yang membeli sparepart, saya lah yang memasangnya”, ujar Aban.

Dengan menjadi tukang tambal ban dan bengkel, ia setidaknya memperoleh penghasilan secara menentu. Menurutnya, penghasilan yang diperolehnya tergantung pelanggan. Setidaknya dalam setiap hari, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 50 ribu. Kalau pelanggan banyak, penghasilan bisa lebih dari itu. “Saya juga terima service panggilan, bila ada yang memerlukannya”, ujarnya bersemangat.

Karena kondisi tubuhnya yang tidak sempurna, semua pekerjaan dilaksanakan dengan cara duduk. Ia tidak malu menjalankan pekerjaan meskipun tubuhnya tidak sempurna. Ia tetap merasa bersyukur. “Bagaimana tidak bersyukur, orang seperti saya ini, bisa menyekolahkan anak sampai jenjang perguruan tinggi”, tuturnya.

Berita terkait  
tag:meski,cacat,ia

Anggota DPRD Tanah Laut dari PPP Dilaksanakan Proses PAW
Kamis, 07 Desember 2017, 22:20:48 wita

Rumah Perlindungan Sosial di Tanah Laut Diresmikan
Rabu, 06 Desember 2017, 19:48:01 wita