PELAIHARI POST

Artikel

Oknum Nakal, Miris Hati

Jum'at, 22 Februari 2013, 21:57:33 wita
Oknum Nakal, Miris Hati

Basuki Rahmat,SE

PELAIHARI POST 電 Oleh : Basuki Rahmat,SE (Aktivis Muda Kabupaten Tanah Laut)

Ketika kita melihat seorang petugas yang mengatur arus lali lintas ditengah jalan, terlebih disaat jam-jam sibuk (pagi menjelang ke sekolah dan kekantor, siang pulang sekolah dan istirahat sejenak bagi pegawai, serta sore saat pegawai pulang kerja), pada jam-jam itu arus lalu lintas begitu ramai, maka hati merasa senang karena lalu lintas dapat tertata dengan baik,tidak amburadul dan pokoknya tidak melahirkan ucapan yang kurang baik.

Masyarakat banyak berharap pengaturan terhadap lalu lintas dapat secara kontinyu hem...itu pasti demi untuk terciptanya suasana tertib,aman dan lancar.

Namun belakangan sesosok orang yang terlihat gagah mengenakan pakaian kebesarannya nampaknya membuat miris hati masyarakat yang berharap penuh sejatinya mengayomi dan melindungi. Sejumlah kabar tersiar dibalik gagahnya mengenakan pakaian kebesaran itu malah berbalik arah 180 derajat justru melawan arus.

Tidak sedikit kabar tersiar, sang pengayom bahkan ikut mencicipi barang-barang terlarang, dan di klaim juga diharamkan. Pertanyaannya mungkin sederhana, karena dibalik pakaian kebesaran itu ia juga manusia, sehingga manusiawi saja jika ada sifat ingin tahu dan ingin merasakan. Tapi, jika kembali kefungsi awalnya, apalagi dengan ucapan sumpah dan janji ketika menduduki jabatan dengan mengusung pangkat tertentu, kita semua akur bahwa sumpah diucapkan harus seirama dan sebagai rambu untuk bekerja.

Tidak sedikit bahkan kenakalan dari oknum-oknum aparat yang terlibat penggunaan sabu, inek, atau lainnya yang berbau narkoba, ikut menjadi beking, dan patalnya malah ada kong kalingkong dengan pemilik barang-barang laknat alias 86. Semua terngiang dan terbaca jelas kepublik diera kemajuan cepatnya informasi. Ada saja yang lebih memiriskan hati, oknum nakal aparat malah kepergok oleh big bosnya sendiri disaat melakukan acara pesta barang yang dilarang.

Keadilan harus dijunjung tinggi, sebab dinegara ini "Hukum Tak Pandang Bulu", siapa yang salah ia harus terima hukumannya dan jangan berdalih apa-apa jika memang terbukti, seret dan adili. Lantas apakah baju kebesaran hanya sebagai bentuk tameng untuk tampil gagah-gagahan, atau untuk menakut-nakuti ah...jangan, yang sejatinya mereka harus memberangus bentuk ke zaliman ditengah-tengah masyarakat. Jangan sampai seragam gagah itu tercoreng hanya karena ulah segelinitir oknum nakal. Kalau toh sosok itu di berhentikan apalagi dengan tidak hormat, apa lantas menjadi jaminan ia akan isyaf.

Langkah pembinaan mendalam yang disisipi dengan penguatan mental spiritual sejak dari sekarang harus terus getol di tanamkan.Masyarakat biasa mungkin hanya bisa geleng kepala jika mendengar adanya oknum aparat ikut-ikutan bermain melawan arus.

Pejabat di level atas katakan itu anggota DPR RI yang punya kantor di Jakarta, kadang juga miris hati mendengar ulah oknum aparat nakal, sampai-sampai berinisiatif berikan peringatan kepada petinggi yang lebih tinggi dari kesatuannya harus ambil sikap, dimutasi atau masuk kotak, sebab bagi anggota DPR RI memang punya hak untuk melakukan pengawasan. Tapi jujur juga selevel anggota DPR RI juga kadang sangat gampang tergoda, kembali lagi ke manusiawi.

Harapan, jangan lagi oknum nakal aparat itu berkeliaran kalau tidak ingin mencoreng korpsnya sendiri. Pembinaan dan pembinaan merupakan langkah yang harus lebih di presure (ditekankan), agar terciptanya sosok pengayom yang benar-benar mengayomi, bukan ambil kesempatan bisa untung diatas panji-panji mengayomi itu sendiri, semoga ini tidak terjadi.

Berita terkait  
tag:oknum,nakal,miris