PELAIHARI POST

Sosok dan Tokoh

Sukses Kelola Hotel dan Butik, Kembangkan Kelengkeng Menyusui

Sabtu, 23 Februari 2013, 02:57:06 wita
Sukses Kelola Hotel dan Butik, Kembangkan Kelengkeng Menyusui

Yusuf Effendi

PELAIHARI POSTPelaihari Post . Tidak sangka bahwa tanaman buah kelengkeng bisa berkembang dengan baik di wilayah Kabupaten Tanah Laut. Masyarakat di Kabupaten Tanah Laut pada umumnya masih enggan melirik tanaman kelengkeng, untuk dibudidayakan. Bisa jadi tanaman ini, dianggap tidak cocok dengan kondisi geografis. Tetapi apa yang dilakukan oleh Yusuf Effendi (60), Warga Desa Panggung Kecamatan Pelaihari, membuktikan bahwa tanaman buah kelengkeng bisa berkembang biak dengan baik. Pada awalnya banyak orang yang meragukan atas apa yang dilakukannya. “Banyak orang sinis dan mencibir, saat saya memulai menanam kelengkeng ini.”, ujarnya.

Pria pensiunan BUMN perkebunan yang selama ini dikenal sebagai pengusaha Hotel di Kabupaten Tanah Laut ini, dalam empat tahun terakhir, sukses mengembangkan tanaman kelengkeng di kebun belakang rumahnya. Buah kelengkeng yang ada sekarang ini, telah menghasilkan nilai ekonomis. Selain itu menurutnya, kebun kelengkeng yang dimilikinya ternyata menjadi pemikat tersendiri bagi tamu hotel.

“Sejak ada kebun kelengkeng, banyak tamu yang datang. Mereka ke hotel tidak semata-mata menginap atau beristirahat karena perjalanan jauh, tetapi juga terpikat oleh adanya tanaman kelengkeng. Biasanya mereka mendapatkan informasi soal kebun kelengkeng di sini, diperoleh dari rekan kerjanya. Pernah malam-malam, ada tamu yang datang dari Batu Licin. Ia berkunjung ke sini, sekedar hendak melihat kebun kelengkeng”, kata Yusuf.

Pada saat ini, dari hasil panen buah kelengkeng, ia sudah membuka depot buah di depan hotel. Harga jual per kilogram untuk buah kelengkeleng pretelan (sudah terlepas dari tangkai) sebesar Rp 20 ribu rupiah. Sementara untuk harga jual kelengkeng bertangkai sebesar Rp. 15 ribu rupiah per kilogram. Ia memberi nama buah yang dijualnya ini, Si Manis dari Tanah Laut. Nama ini diambil, karena buahnya terasa sangat manis.

Dalam mengembangkan tanaman kelengkeng ini, dalam benak Yusuf selalu terobsesi bahwa tanaman kelengkeng yang dikembangkannya suatu saat, hasil panennya terpampang dan terjual di supermarket atau mall. Pada saat ini, realisasi dari obsesi selama ini sudah memasuki tahap pertama, yaitu dijual di depot pinggir jalan. Namun demikian ia mengakui bahwa pilihan untuk mengembangkan tanaman buah kelengkeng, tidak semata-mata ambisi yang bersifat komersial saja. “Kami menanam buah kelengkeng, bukan nilai uangnya Mas. Tetapi, dari segi estetika”, ujarnya.

Namun demikian seperti diakuinya, tanaman buah kelengkeng yang dikembangkannya memiliki nilai produktif yang menjanjikan. Saat ini ia memiliki 60 buah pohon kelengkeng, sudah 40 buah pohon yang bisa dipanen. Dari 40 pohon yang sudah dipetik saat ini, setiap panen menghasilkan tak kurang dari 1½ ton buah kelengkeng. Tanaman ini menurutnya, bisa lebih produktif dari tanaman sawit ataupun karet. Apalagi, bila lahan yang dimilikinya terbatas. Tanaman kelengkeng yang dimilikinya saat ini pun, hanya membutuhkan kurang lebih ¼ ha. “Dengan 10 pohon buah kelengkeng saja, hasilnya sudah sama dengan hasil tanaman sawit seluas satu hektar”, katanya.

Di samping itu menurutnya, tanaman buah kelengkeng memiliki kemampuan dalam mencukupi ketersediaan sumber air. Sebelum bertanam kelengkeng, pada musim kemarau, ia setiap hari membeli air, dua mobil tangki untuk kebutuhan hotel dan rumah tangga. Tetapi sejak bertanam kelengkeng, belum pernah membeli air satu kali pun. “Padahal air disedot 24 jam untuk mencukupi keperluan hotel dan rumah tangga”, ujarnya.

Tanaman kelengkeng yang ditanam oleh Yusuf sekarang ini, idak menggunakan pupuk kimia, tetapi menggunakan organik, yaitu dari kotoran sapi ataupun kambing. Setiap pohon dipupuk sebanyak 5 karung, dalam setiap enam bulan. Sedangkan untuk pembasmian hama, tidak menggunakan pestisida, tetapi dengan cara di makan oleh burung kutilang. Burung kutilang yang datang dibiarkan membuat sarang di beberapa pohon yang ada. Selanjutnya, burung kutilang itulah yang akan memakan hama semacam ulat yang biasanya menyerang tanaman kelengkeng. Untuk mengundang agar burung kutilang datang, ia menanam buah pepaya di sekitar tanaman kelengkeng.

Pilihan menghindari pestisida dilakukan demi menjaga keselamatan. “Cucu saya, kalau makan kelengkeng, langsung ambil di pohon, langsung digigit sama kulitnya. Dari situlah sebabnya saya tidak menggunakan pestisida. Selain itu tentu saja, demi keselamatan konsumen pada umumnya”, tuturnya.

Pembudidayaan tanaman buah kelengkeng yang dilakukan oleh Yusuf ini, bermula dari apa yang ia lihat di Kota Pontianak. Oleh karena itu, untuk mengawalinya, ia mengambil bibit dari Pontianak, empat tahun yang lalu. Pada saat itu, ia membawa bibit dalam bentuk polibek sebanyak 15 buah, dengan ketinggian bibit antara 30-40 cm. Dari bibit yang ada, selanjutnya ia budidayakan dengan membuat pembibitan sendiri, yang ia sebut “pembibitkan menyusui”. Bibit dalam polibek ditempel pada pohon yang sudah terbukti baik. Cara ini dimaksudkan agar nantinya, bibit yang ditanam tidak akan berubah kualitas dari induknya.

Menurut Yusuf, budidaya tanaman kelengkeng yang dikembangkannya bersifat terbuka. Siapa saja bisa melihat dan belajar untuk membudidayakan. Kebun kelengkeng yang dimiliknya selain menjadi usaha yang terpadu dengan hotel dan butik yang dikelolanya saat ini, juga bisa menjadi semacam “kebun pembelajaran bagi masyarakat”. “Siapa saja, apalagi masyarakat Kabupaten Tanah Laut, bisa belajar di sini. Kami terbuka dan siap berbagi pengetahuan”, ujarnya.

Pada saat ini, Yusuf Effendi ingin berkonsentrasi mengurus kebun kelengkeng. Sementara pengelolaan butik dilakukan oleh istrinya, Suhariyanti (55). Sedangkan untuk pengelolaan hotel, secara perlahan saat ini diurus oleh anaknya yang kebetulan telah selesai pendidikannya, sebagai Sarjana Ekonomi.

Menurut Suharyanti, butik yang dikelolanya sudah melayani berbagai model pakaian yang merupakan hasil dari rancangan sendiri. Beberapa pelanggan yang memesan pakaian di butiknya, biasanya tidak cocok dengan model pakaian yang dibuat massal oleh pabrik, sehingga meminta desain khusus darinya. Kegiatan perlombaan desain pakaian seringkali diikutinya. “Rancangan kami pernah menjuarai tingkat provinsi pada tahun 2011 dalam ajang Lomba Rancangan Busana Muslim Sasirangan dalam rangka Semarak PKK Kalsel”, Ujar Suharyanti. Asb

Berita terkait  
tag:sukses,kelola,hotel

SELAMAT DAN SUKSES ATAS DILANTIKNYA
Sabtu, 23 Februari 2013, 02:45:04 wita