PELAIHARI POST

Editorial

Manisnya Gula yang Tak Tertunaikan

Minggu, 24 Februari 2013, 02:06:20 wita
Manisnya Gula yang Tak Tertunaikan

ilustrasi

PELAIHARI POST 電 Sebuah tonggak sejarah di Kabupaten Tanah Laut pernah ada sebuah pabrik gula yang megah yang melibatkan banyak petani. Konon, pada zamannya, perusahaan ini merupakan satu-satunya perusahaan gula di Asia Tenggara yang menggunakan sistem PIR (perusahaan inti rakyat). Ada beberapa sebutan yang dikenal masyarakat umum, yang sebenarnya dimaksudkan untuk “menunjuk” perusahaan ini seperti PTPN XXIV-XXV, PG Pelaihari maupun PIR Gula Pelaihari. Setelah terjadi metaformosis perusahaan yang tidak lagi menggunakan angka romawi XXIV-XXV, angka romawi yang digunakan selanjutnya tampak kurang begitu kental dalam ingatan masyarakat.

Ada suatu segmen dari sejarahnya yang bisa terukir dengan tinta emas. Meskipun ukiran-ukiran sejarah itu masih nampak muskil untuk sekedar ditengok ataupun memperpalingkan muka di tengah eforia sumberdaya alam yang tak terbarukan (unrenewable resources) di Kabupaten Tanah Laut saat ini. Tetapi ada satu segmen yang belum saatnya dapat diukirkan dalam bingkai sejarah yang utuh karena masih tali-temali hingga kini, berupa onggokan masalah yang tertunggakkan. Hingar bingar geliat ekonomi masyarakat waktu itu, terasa manis, semanis rasa gula. Yang disadarinya sekarang, rasa manis itu, sekedar “pinjaman rasa” yang tak tertunaikan hingga kini.

Tertahannya ribuan sertifikat peserta PIR Gula Pelaihari, sepertinya bukan suatu masalah besar. Kecemasan-kecemasan oleh karenanya masih bisa ditampilkan dalam kesantunan normatif oleh masyarakat yang bersangkutan. Tetapi justru itulah, ini kesempatan emas, bagi pihak terkait. Memang ada sisa pinjaman yang tercatat sebagai ihwal penahan ini. Hadirnya instrumen kekuasaan negara sebagai musabab darinya, tentu saja bukan sesuatu yang murni seratus persen bersifat perdata antara terpinjam dan yang diatasnamakan peminjam. Oleh karenanya, sudah sepatutnyalah pihak-pihak terkait itu, menampilkan diri menunaikan hutang dan tanggungjawab sejarah.. Kesempatan emas saat ini, belum tentu akan terus terbuka sepanjang masa. Bila kecemasan berpaut kesadaran, suatu ketika, kapan saja, tak terduga, keterpautan keduanya menjadi kolektif dan masif. Air tenang, jangan disangka tiada buayanya.

Berita terkait  
tag:manisnya,gula,yang

Kawasan Gunung Kayangan Dijadikan Tempat Penanaman Kedelai
Jum'at, 06 Oktober 2017, 20:16:22 wita

Tempat Wisata Gunung Kayangan Mulai Ramai Dikunjungi
Senin, 26 Juni 2017, 22:24:08 wita