PELAIHARI POST

Artikel

Ketika Galau Melanda

Minggu, 24 Februari 2013, 06:52:12 wita
Ketika Galau Melanda

Rabiatul Adawiyah

PELAIHARI POST 電 Oleh Rabiatul Adawiyah (Guru SMA Negeri 1 Pelaihari)

Sebagai guru BK di SMA, saya seringkali menerima siswa yang mempunyai keluhan yang mereka sebut galau. Keluhan yang dialami siswa yang diistilahkan galau tersebut seolah-olah menjadi ikon bagi suasana hati yang sedang resah, gelisah, bimbang dan sejenisnya. Istilah galau tidak saja dikenal di lingkungan sekolah, dalam pergaulan di masyarakat ataupun di lingkungan rumah tangga, anak-anak kita tidak begitu asing dengan istilah itu.

Menurut teori psikoanalisis galau adalah bentuk kecemasan yang berkembang dari adanya konflik antara sistem ego menyangkut mekanisme kontrol atas energi psikis (psikolozone.com, 2012). Sistem kepribadian manusia tersusun dari banyak bagian yang terhimpun dalam satu kesatuan. Bagian-bagian tersebut bisa berupa sifat, persepsi, angan-angan, hasrat, nilai-nilai dan banyak lagi yang didapat dari unsur genetika, pengalaman dan pola asuh dimana seseorang dibesarkan, di dalam kandungan, masa bayi, masa anak-anak, masa remaja sampai masa sekarang.

Dalam situasi normal, bagian-bagian itu terkoordinasi dengan baik. Nah, apa yang terjadi ketika seseorang mengalami galau? Ada semacam konflik antar bagian dan lemahnya sistem koordinasi. Sehingga, dorongan lain yang semestinya penting terkalahkan baik yang terkait keselamatan ataupun norma sosial. Misalkan seorang remaja yang sudah memiliki hasrat untuk berpacaran tetapi kenyataanya tidak terwujudkan yang di satu sisi, di lingkungan teman mereka sudah saling berpacaran, bisa membuat galau stadium 5. Di sini, terjadi benturan antara hasrat, persepsi (merasa tidak laku), harga diri dan bisa ditambah unsur lain yang saling berbenturan. Bila bagian dari sistem kepribagian yang tidak dimilikinya tidak terkoordinasi dengan baik maka dorongan yang bersifat mengancam keselamatan dan pelanggaran terhadap norma sosial lebih dikedepankan.

Bagi orang tua bisa saja akan merasa heran melihat kondisi anaknya yang dilanda galau, yang dulunya dianggap penurut kini menjadi sebaliknya. Berbagai macam sebab dituduhkan yang bisa jadi hanya “kambing hitam belaka” seperti gara-gara internet, HP atau pun gara-gara temannya. Orang tua seharusnya bersikap tenang, bijak dan tidak berprasangka. Orang tua seharusnya berbicara dari hati ke hati, antar manusia, bukan dari atasan kepada bawahan. Teknik OTFD (open the front door) akan sangat membantu, yaitu: Ungkapkan fakta terlebih dahulu, kemukakan pikiran rasional, tunjukan perasaan kuatir, kemukakan saran yangmasuk akal dan bersabarlah karena semua ada proses.

Bagi remaja atau siapapun yang sedang dilanda galau cobalah untuk: 1). Menyediakan waktu sejenak untuk berdiam diri. 2). Mengkonsentrasikan pada kekuatan sendiri. 3). Tidak mencari kambing hitam. 4). Melihat dari sudut pandang positif. 5). Berdoa kepada Tuhan dan meningkat ibadah.

keluhan dari siswa yang mereka sebut sedang galau. Mereka tengah mengalami suasana hati yang resah, gelisah, bimbang dan sejenisnya.


Berita terkait  
tag:ketika,galau