PELAIHARI POST

Editorial

Dihempas Kematian

Minggu, 24 Februari 2013, 06:58:16 wita
Dihempas Kematian

-

PELAIHARI POST 電 Ada yang berpendapat bahwa hidup ini bersifat ironis, karena manusia sebenarnya tidak pernah meminta agar dia dilahirkan, tetapi begitu dia lahir, mencintai hidup dan kehidupannya, dia dihadapkan pada sebuah realitas. Manusia dihadapkan pada kematian, dihadapkan pada batas akhir hidup. Kematian, baik dalam situasi normal maupun tidak normal, tidak pernah gagal untuk menunjukkan kekuatannya. Kematian benar-benar merampas segala nilai kehidupan yang telah ditata dengan rapi, serta memporak-porandakan semua rencana hidup yang disusun oleh manusia. Manusia selalu merasa datangnya kematian itu terlalu cepat. Kesempatan untuk menyelesaikan segala rencana yang ada dihempas oleh kematian.

Kabar kematian apalagi tidak wajar tentulah menghentak hati. Naluri kemanusiaan mendorong untuk ikut merasakan prosesi penyelenggaraan pasca kematian. Hasrat ingin tahu juga menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan dari dalam diri manusia. Pernak-pernak berita kematian yang menimpa Siti Maemonah atau yang sering dipanggil Monah sungguhlah menyayat hati. Perhatian dan simpati dari masyarakat cukup besar. Tidak hanya warga setempat saja yang bersimpati, para pengunjung yang datang dari jauh yang sengaja datang, tak kurang juga memberikan simpati dengan berbagai bentuk.

Proses hukum yang sedang berjalan merupakan konsekuensi yang harus dilakukan. Kematian yang menyimpan berbagai tanda tanya mestinya dapat dijabarkan secara lugas dan terang benderang, sehingga resiko hukum yang harus diterima pun sebanding dengan perbuatan sesuai dengan perundangan yang berlaku. Peran kelembagaan sosial nantinya diharapkan memberikan ruang yang dipenuhi oleh rasa segar selain mampu menjadi alat deteksi sosial dini terhadap potensi upaya penghilangan nyawa secara tidak wajar.

Berita terkait  
tag:hempas