PELAIHARI POST

Editorial

Aspal, Asli tapi palsu

Minggu, 24 Februari 2013, 07:35:16 wita
Aspal, Asli tapi palsu

-

PELAIHARI POST 電 Kontradiksi sebetulnya, tetapi itulah fenomena Indonesia. Asli tapi palsu. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan kelengkapan formalitas, bisa saja dilihat sebagai perilaku yang mengutamakan hasil secara instan, tanpa mau berjerih payah atau berproses. Buruknya Integritas petugas yang terkait dengannya menjadikan “perselingkungan administratif” seperti ini menjadi subur.

Adakalanya memang tradisi permintaan persyaratan terkadang hanya formalitas belaka yang terkadang tanpa konsekuensi apa-apa, juga ada yang cenderung mengada-ada. Soal ketaqwaan, kesetiaan atau kondisi rohani seseorang, secara brutal dikuantitasi dan terkadang orang atau lembaga diberikan otoritas untuk menghakiminya. Maka tak heran jika “lain yang gatal, lain pula yang digaruk”.

Aspal itu, bisa juga ambiguitas personal ataupun kondisi sosiologis. Orisinalitas personal atau masyarakat terkadang terbungkus oleh tirai kepalsuan, akibat tergelincir oleh imajinasi hedonisme sosial. Rujukan terhadap ketauladanan kepemimpinan pun tidak lagi pada orisinalitas kebijakan bagi kemaslahatan, tetapi kepada kemurahan hipokrit, yang muncul sebagai sebuah egoisitas yang murah hati, berbudi baik, sholeh dan sholehah.


Berita terkait  
tag:aspal,asli,tapi