PELAIHARI POST

Puisi

Puisi-Puisi Septy Kuntarsih: Jujurlah Padaku, Sekarang atau Dulu, Pagi dan Rindu

Sabtu, 06 April 2013, 07:34:23 wita
Puisi-Puisi Septy Kuntarsih: Jujurlah Padaku, Sekarang atau Dulu, Pagi dan Rindu

Septy Kuntarsih

PELAIHARI POST 電 Meskipun dalam usia yang sangat belia (masih tercatat sebagai siswa SMPN 4 Batu Ampar), untaian kata yang dirangkai oleh Septi Kuntarsih mempunyai cukup kekuatan makna. Butiran kata yang disenandungkannya seperti terukir dari guratan yang tersesakkan. Seperti ada sebuah pergolakan jiwa.

Diantaranya, keterpatrian rasa dalam asa, mungkinkah dapat dipahami dalam sesaat waktu. Acapkali waktu bisa lebih ganas dari segala keganasan. Meluluhlantakan. Waktu pun merubah segalanya. Keterpatrian pesona, seperti: “Tatapan matamu sudah tak asing lagi bagiku. Senyuman itu sudah tak terkucilkan lagi”. Bukan kekuatan maha mengikat. Akhirnya pun lekang oleh waktu: “ ... semua kelam oleh waktu”.

Bagaimana sejatinya Jejak dan ritme perjalanan manusia. Apakah berupa lingkaran yang selalu berulang-ulang, “Mengapa sekarang dan dulu sama, indentiknya dengan hati ini yang sudah remuk”.

Obsesi bisa saja memberi kekuatan kepada langkah panjang. Rasa lelah tak terlelahkan, sakit tak tersakitkan. Melewati lorong dan jurang. Yang lantas di kemudian tak nyata terpautkan. Tetapi itulah. Terkadang ada ketersediaan diri pada kerelaan dalam jerat kenaifan: “Walau aku tak pernah kau izinkan duduk dihatimu, Tapi aku merasa cukup telah tinggal di memorimu”.


Jujurlah Padaku

Tatapan matamu sudah tak asing lagi bagiku

Senyuman itu sudah tak terkucilkan lagi

Tetapi semua kelam oleh waktu

Tatapan itu sekarang jarang

Memasuki rentina mata ini

Bola –bola mata ini rindukan bola matamu

Senyuman yang dulu mampu merenggut bibirku

Sekarang tak terasakan

Jujurlah padaku wahai kekasihku

Jujurlah bila kau bosan denganku

Walau kata itu akan masuk kedalam hatiku

Tapi aku ingin kejujuranmu

Biarlah aku berjalan merana

Asalakan aku tak menjadi secuil kisah hidupmu

Yang selalu terbagi-terbagi

Karna cinta yang selalu kau obral

Padahal cinta itu bekas

Sayangku jujurlah


Sekarang ataupun dulu

Terluka...................

Dan Terluka lagi......

Semua yang sudah hilang

Kejanggalan yang membuat ku menderita

Kini bagaikan panah yang menusuk hati

Sungguh beribu hingga tak terhitungkan lagi

Semua itu sulit tuk dihilangkan

Mengapa semua itu sama

Mengapa sekarang dan dulu sama

Indentiknya dengan hati ini yang sudah remuk

Aku hancur,rapuh dan tak berdaya menghadapi

Tuhan bantu aku terbang tuk melewati ini

Tuhan enyahkanlah mereka dari pojok hatiku

Aku tak mampu harus menerima mereka

Karna mereka sudah membuat kebisingan bagiku


Pagi

Saat mentarimenaiki tangga kehidupan

Cahaya menerpbos celah-celah rumah

Cahanya yang begitu Abyad membangkitkan dunia mimpi

Pecahlah dunia mimpi

Tinggallah insan-insan dunia

Senyum pagi dari mentari

Menerangi putih di bawah biru

Menghijaukan semua alam

Menyemangatkan dunia

Dendangan lagu pagi begitu merdu

Suara titisan air pun begitu suci

Saat aku keluar aku melihat

Butiran air yang menggantung di dedaunan

Oh.......abyadnya dia

Alam pun bercermin padanya

Pagi sungguh indah

Pagi yang begitu abyad

Indah bagaikan surga


Rindu

Berjuta-juta tahun aku melewati lorong waktu

Bersakit-sakit aku melewati jurang yang curam

Hanya demi bertemu dengamu dan memilikimu

Sekarang aku telah ada dihadapanmu

Hingga aku bisa menatap beningnya bola matamu

Sekarang aku telah bisa bercakap-cakap denganmu

Hingga aku tau nada-nada yang keluar dri mulutmu

Sekarang aku berjalan dengannya

Hingga aku tau melodi gerak tubuhmu

Aku rindu hingga aku begini

Aku merindukanmu wahai ku cinta

Walu aku tak pernah kau izinkan duduk dihatimu

Tapi aku merasa cukup telah tinggal di memori mu


Berita terkait  
tag:puisi-puisi,septy,kuntarsih:

Puisi-Puisi Karya AbdulKarim ( Oka Miharzha.S)
Jum'at, 22 Februari 2013, 22:00:31 wita