PELAIHARI POST

Editorial

LGBT

Sabtu, 16 Juli 2016, 13:57:46 wita
LGBT

ilustrasi

PELAIHARI POST 電 LGBT

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Pada pokoknya hubungan sesama jenis. Sebenarnya bukan hal baru. Hanya karena mencuat secara terbuka dan terang-benderang menjadi sebuah gerakan tentu sangat mengejutkan bagi masyarakat yang berpaham pada orientasi heteroseksual. Mereka selama ini dianggap sebagai sisi kehidupan sebagai deviasi sosial, semacam penyimpangan atau sebuah bentuk abnormalitas dalam perilaku hidup.

Dalam keseharian baik di tengah masyarakat maupun di sudut dan di lorong kehidupan terdapat fenomenal homoseksual baik gay maupun lesby. Menurut catatan sejarah (Kompas Online, 18 Februari 2016) fenomena homoseksual di Indonesia sudah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit.

Munculnya sebuah gerakan tentu saja bermaksud mengubah kategori soal yang terbentuk dan menjadikan sebagai “bukan penyimpangan” tetapi sebuah normalitas yang dengan kata lain untuk dapat “dilegalisasi”.

Mungkin kita sudah agak lupa dengan kasus-kasus di Indonesia terkait homoseksualitas ini. Pelaihari Post Edisi XII mencatat korban pembunuhan yang dilakukan oleh Mujianto, pemuda asal Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri mencapai 23 orang (tahun 2011). Tahun 2010 Baekuni alias Babe, memutilasi korbannya dengan keji. Pada 2008, terdapat aksi pembunuhan sadis yang dilakukan Verry Idham Hernansyah alias Ryan. Ia telah membunuh setidaknya 10 orang. Pada 1996 Robot Gedhek setidaknya telah membunuh dan memutilasi 12 anak jalanan usai melakukan sodomi.

Kalau dilihat fenomenanya di Indonesia, pada beberapa kasus pelecehan seksual oleh para homoseksual, muncul jika terjadi kekerasan, diketahui setelah terjadinya kriminalitas. Fungsi pengendalian sosial tidak mampu melaksanakan deteksi sosial dini. Tetapi sebaliknya, untuk para heteroseksual, ketika ada sejoli, sebatas “runtang runtung” belaka, deteksi sosial dini langsung bekerja dengan aktifnya: menjadi buah bibir, dicerca bahkan sampai “diadili” secara adat. Antara laki-laki dan perempuan sekamar di hotel “kelas teri” bisa digerebek Satpol PP. Coba kalau sesama lelaki atau sesama perempuan?

Bila gerakan ini membuahkan hasil tidak hanya soal keleluasaan atau legalisasi yang dicapai tetapi juga pembenaran yang secara hakiki terikat pada soal kelestarian. Bila kelestarian lingkungan begitu penting bagi kehidupan. Kelestarian umat manusia tidak begitu pentingkah bagi kehidupan?


Berita terkait  
tag:lesbi,wandu,homo,gersang,punah