PELAIHARI POST

Editorial

Byar Pet, Pet Pet Pet, Byar....Pet....

Sabtu, 16 Juli 2016, 23:09:56 wita
Byar Pet, Pet Pet Pet, Byar....Pet....

ilustrasi

PELAIHARI POST 電 Kondisi byar pet listrik di Kalimantan Selatan sepertinya terasa menyesakan dada. Tidak terhitung jumlah dan jenis sumpah serapah yang bermunculan. Beberapa pengguna media sosial pun tak pernah bosan menebarkan kata serapah itu karena cara itulah salah satu yang bisa dilakukan untuk mewakili kekesalan dirinya.

Kita sudah terlanjur mengalami ketergangungan pada energi listrik yang mungkin karena tuntutan keadaan yang disebutnya sebagai kemajuan. Pekerjaan, fasilitas rumah maupun kantor, sarana hiburan harus ditopang oleh ketergantungan energi listik. Kehidupan sehari-hari praktis tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan akan energi listrik. Lihat saja di suatu kantor bila listik padam, aktifitas pekerjaan sepertinya lumpuh. Begitu pula di rumah, mereka seakan berhenti aktifitasnya. Mereka menunggu dengan resah dan kesal sampai listrik menyala. Ada saja anak kecil yang tidak bisa tidur alias menangis karena suhu kamarnya panas, karena AC tidak berfungsi. Pelajar pun demikian, tak bisa belajar karena sudah tidak mengenal lagi ublik, teplok, petromaks atau sejenisnya.

Tidak sedikit pula keluhan atas kerusakan peralatan elektronik dari kondisi listrik yang byar pet ini. Tetapi lebih banyak mereka berpasrah diri meratapi kerusakan itu karena tidak ada mekanisme yang jelas atas kerugian seperti ini. Lagi pula tidak ada fenomena ramai yang mendesak untuk itu. Mungkin itulah kondisi lemah konsumen listrik saat ini. Di sisi lain bila mengalami keterlambatan pembayaran, konsumen bisa terkena denda atau bahkan sanksi pemutusan aliran listrik. Padahal merupakan badan usaha milik negara tetapi ketika soal pembayaran menggunakan pendekatan komersial tetapi soal pelayanan menggunakan pendekatan seperti suatu badan dari sebuah negara. Tetapi itulah yang terjadi.

Adanya protes akhir-akhir ini sepertinya sudah tidak terelakan lagi dari menggumpalnya sumpah serapah dan naiknya kejengkelan akut yang bertubi-tubi. Memang saat ini belum cukup masif apalagi bila diperbandingkan dengan jumlah penerima dampak maupun intensitas kejengkelan masyarakat. Itu pun terkesan ada yang mudah dilemahkan oleh argumentasi yang bersifat birokratis pada sebuah korporasi negara. Padahal sejatinya bukan melulu soal teknis seperti input-output, laba-rugi ataupun maintanance tetapi hakekatnya soal poltical will. Tetapi memang objektifikasi transaksional politik yang terjadi selama ini menjadikan demoralitas yang melemahkan daya desak dan daya gugat masyarakat. Tetapi, semoga mereka tetap mempunyai energi untuk terus saja bergerak. Sejatinya para aktifis tidak akan pernah berhenti, karena mereka sudah terbiasa mengepalkan tangan dan menggenggam semboyan: "hanya satu kata: lawan".


Berita terkait  
tag:padam,byar,pet

Kawasan Gunung Kayangan Dijadikan Tempat Penanaman Kedelai
Jum'at, 06 Oktober 2017, 20:16:22 wita