PELAIHARI POST

Usaha Ekonomi

Usaha Bata Merah di Desa Telaga: Jika Musim Hujan Susah Kering, Jika Kemarau Susah Air

Selasa, 04 Oktober 2016, 23:51:15 wita
Usaha Bata Merah di Desa Telaga: Jika Musim Hujan Susah Kering, Jika Kemarau Susah Air

Ujang, saat menyusun dan merapikan bata merah yang sedang dijemur, Rabu (05/10/2016)

PELAIHARI POST 電 Serba usah. Itulah ungkapan singkat yang dikemukakan Ujang, dalam menekuni usaha pembuatan bata merah. Warga RT 13 Desa Telaga Kecamatan Pelaihari ini, ditemui Pelaihari Post , Rabu (05/10/2016), saat sedang menjemur bata merah dengan cara dibariskan. Dari kejauhan, kalau ia sedang berdiri dan memandangi bata-bata itu, tampak seperti komandan regu yang sedang mengatur pasukan baris berbaris.

Bata-bata yang dijemur itu bila sudah kering, menurutnya ditumpuk di dalam kandang. Selanjutnya dilakukan proses pembakaran menggunakan sekam dan kayu bakar. Ia pun menunjukan bata-bata yang sudah ada di kandang yang menurutnya berjumlah sekitar 10 ribu buah.

Menurut Ujang dalam usaha pembuatan bata merah ini sering terkendala oleh keadaan. "Masalah produksi bata merah ini jika musim hujan, bata susah kering, namun jika musim kemarau, kesusahan air. Seingkali kita pada musim kemarau harus membeli air menggunakan tangki. Harga air setiap tangki Rp 35 ribu, sehari memerlukan uda tangki. Ini mengasilkan bata sekitar 4 ribu," tuturnya.

Bata merah yang diproduksinya, tutur Ujang, dijual per biji seharga Rp 300,- Bila jumlah pembelian banyak, harga bisa kurang dari harga perbiji. Untuk sistem kerja pembuatan bata merah, dengan cara pinjam lahan dari orang lain dengan bagi hasil. "Jika dapat 10 ribuan bata merah dikasihkan kepada yang memilik lahan sebanyak 1000 bata merah. Namun untuk biaya sehari-harikita masih mencari pinjaman. Untuk mengantikan uang pinjaman biasanya para pekerja sistem bagi hasil juga. Jika nanti bata merah ini dihargakan 300 perbijinya dipotong sama yang punya modal 250 rupiah, Rp 50 rupiahnya untuk kita," ucapnya.

Hal sama dikatakan oleh Mahpud yang mengakui peran pemodal dalam pembuatan bata merah ini. "Yang pemilik modal dikasih dua atau satu rit dalam hitunga 10 ribuan bata . Nanti setelah itu sisanya buat yang kerja. Kalau masih sisa. Tapi kalaunya tidak sisa, ya kita tidak kebagian. Disini hampir rata-rata jika tidak ada modal dari pemodal, ada yang menggadaikan BPKB motornya guna menggaji pekerjanya. Sekarang penjualan lagi sepi biasanya ramainya pembeli bata merah ini jika ada proyek pembangunan," ujarnya.

Wilayah RT 13 di Desa Telaga Kecamatan Pelaihari, banyak warga yang melakukan pekerjaan pembuatan bata merah. Di wilayah tersebut banyak lahan yang dijadikan kegiatan pembuatan bata merah. "Di RT ini ada sekitar 20 kandang yang dijadikan tempat pengumpulan bata merah," pungkas Ujang. Asb.

Berita terkait  
tag:bata merah,telaga,ujang

Erma, Telaga Daim, Berharap Jadi Penyanyi Terkenal
Selasa, 04 Juni 2013, 07:54:25 wita

Penyanyi Asal Telaga, Kepingin Sukses Seperti Inul
Jum'at, 26 April 2013, 09:53:51 wita