PELAIHARI POST

Artikel

Belajar Membuat Kain Sasirangan dengan Motif Jimpit Khas Kabupaten Tanah Laut

Oleh Wardatu Firdausi (Guru SDIT Assalam Pelaihari )

Kamis, 17 November 2016, 14:52:09 wita
Belajar Membuat Kain  Sasirangan dengan Motif Jimpit Khas Kabupaten Tanah Laut

Guru SDIT Assalam saat menunjukan hasil karya, Sasirangan Motif Jimpit di Desa Martadah Baru,Sabtu (22/10/2016)

PELAIHARI POST 電 Sasirangan motif jimpit adalah motif khas Kabupaten Tanah Laut dengan memadukan motif dari Jogja dan Palembang, sehingga menghasilkan motif baru yang memberikan ciri khas indah. Di desa Martadah Baru kecamatan Tambang Ulang rt 2 rw 1 Kabupaten Tanah Laut. Anak-anak kelas 6 Sdit As-Salam bersama ustadah (Guru) mendampingi mereka untuk kegiatan Visiting Class. Kami belajar tentang budaya dan ketrampilan seni mengolah kain sasirangan yang telah mendunia, yang diakui nasional sebagai warisan budaya khas Kalimantan Selatan. Bertepatan di rumah bapak Riadi dan istri ibu Sri Rahayu di temani rekan kerja mereka bapak Hendrik Suryanto dan istri beliau ibu Winarsih, mereka adalah pengusaha kain sasirangan yang sebelumnya mendapat pelatihan dari pemerintah tentang pembuatan kain sasirangan. Semanagt untuk sukses dan memanfaatkan ilmu adalah motifasi mereka memulai usaha sasirangan ini. Semangat yang membara tak pernah pudar berawal dari modal pribadi dan berkembang dengan pinjaman modal dari bank, sehingga mengembangkan usaha mereka di Kabupaten Tanah Laut, jika Allah mengizinkan perusahaan angkasa pura juga akan mengambil sasirangan dari hasil kreasi dari bapk Riadi dan rekan-rekannya.

Adapun proses pembuatan motif sasirangan memang serumit yang saya bayangkan, pendapat salah satu ustadah yang mendampingi anak-anak kelas 6 SDIT As-Salam. Adapun tahapannya. Pertama, siapkan kain yang akan di motif. Adapun kain yang dipakai hanya kain-kain tertentu. Yaitu kain katun, semi sutra dan sutra, selain dari kain tersebut ada yang tidak bisa digunakan sama sekali dan ada kain yang memberikan hasil yang kurang maksimal dalam tahap akhir atau hasil. Kedua, gambar motif yang diinginkan di atas kain kemudian jelujur garis tepi gambar menggunakan jarum jahit dan benang levis. Benang levis ini sangat kuat yang berfungsi melindungi motif yang diinginkan. Setelah selesai menjelujur kemudian tarik ujung benang dan ikat pisit-pisit yang berarti kuat-kuat untuk membentuk dan melindungi motif yang diinginkan. Misalnya motif gigi haruan yang menjadi ciri khas motif kain sasirangan. Adapun beberapa macam motif yaitu motif bunga, motif bintang, motif jimpit, dan masih banyak lagi. Setelah menjelujur dan menjimpit motif yang diinginkan pada kain, selanjutnya proses pewarnaan, Proses ini menggunakan pewarna tekstil. Sebelum proses pewarnaan bersihkan kain dengan air TRO agar kain bersih dan maksimal dalam menyerap warna. Untuk teknik pewarnaan ada beberapa proses, contohnya untuk membuat warna hijau proses ini dinamakan proses pewarnaan in dan tren, siapkan air panas dua gayung atau sekitar 3 liter dan air dingin (air sumur) satu gayung sekitar 1,5 liter kemudian Racik bubuk warna hijau dua sendok teh , satu sendok teh soda api dan hidro dua sendok teh dalam sebuah timba. Selanjutnya tuangkan air panas ke dalam racikan tersebut untuk melarutkan, setelah bubuk racik larut tambahkan satu gayung air dingin. Nah setelah air untuk mewarnai siap, masukkan kain dan dilanjutkan dengan meratakan air warna hijau di atas dalam sela-sela kain dengan mengucek perlahan menggunakan tangan, jangan lupa lapisi tangan dengan sarung tangan yang terbuat dari karet karena pewarna tekstil sangat berbahaya jika terkena kulit secara langsung, proses tersebut terus dilakukan sampai air menjadi dingin, proses ini kira-kira memakan waktu 15 menit. Setelah selesai dalam tahap pewarnaan pertama, angkat kain dan angin-anginkan hingga muncul warna yang diinginkan, yaitu warna hijau. Setelah muncul warna yang diinginkan yaitu warna hijau lanjutkan proser pewarnaan yang ke dua. Sebelum proser pewarnaan yang kedua lindungi warna hijau yang diinginkan dibagian kain dengan menggunakan plastik, ikat luar dalam dari plastik pada batas kain yang dilindungi. Setelah itu siapkan air warna yang ke dua, proses ini memerlukan dua timba. Satu timba pertama berisi larutan dari TRO, soda api, ASBO (pemancing warna), dan ASG masing-masing satu sendok teh. Selanjutnya larutkan dengan 1 gayung air panas dan 2 gayung air dingin. Larutan ini dinamakan larutan nepthol, larutan nepthol berfungsi untuk mengikat warna. Timba ke 2, larutkan warna biru malam sebanyak 2 sendok teh dengan menggunakan air dingin dua gayung, setelah tercampur dengan air sisihkan satu gayung untuk proses pengulangan untuk mendapatkan warna yang lebih kuat. Lakukan proses pewarnaan ke dua dengan larutan nepthol seperti proses pewarnaan pertama, kurang lebih 15 menit selanjutnya itu masukkan kain ke dalam timba ke dua untuk memberikan warna hitam pada kain. Ulangi proses pewarnaan ke dua yaitu warna hitam sebanyak 2 kali. Setelah proses pewarnaan pada kain selesai lepas jimpitan dan jelujuran pada kain, dan motif akan muncul. Jemur kain tidak langsung terkena paparan matahari, kain sarirangan siap dimanfaatkan. Untuk kain yang berbahan sutra, jelujur dan jimpitan pada kain tidak bisa langsung di lepas dan harus menunggu sampai kain kering lembab untuk menghasilkan kain sura sasirangan yang baik.

Ditulis oleh Wardatu Firdausi, lahir di Trenggalek pada tanggal 28 Oktober 1992. Lulusan IAIN Antasari Banjarmasin jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Sekarang mengajar di SDIT Assalam Pelaihari. Mulai aktif menulis sejak satu tahun terakhir.


Berita terkait  
tag:sasirangan,jimpit,Assalam

SDIT Assalam Laksanakan Ekstra Kurikuler Jurnalistik Cilik
Kamis, 31 Desember 2015, 03:00:46 wita

SDIT Assalam Pelaihari, Adakan Market Day
Minggu, 24 Februari 2013, 10:45:20 wita