PELAIHARI POST

Hukum dan Kriminalitas

Pada Akhir Sidang, Kedua Terdakwa Pengeroyokan Guru Meminta Maaf kepada Korban

Rabu, 13 Desember 2017, 01:15:10 wita
Pada Akhir Sidang, Kedua Terdakwa Pengeroyokan Guru Meminta Maaf kepada Korban

Terdakwa meminta maaf kepada Korban, Selasa (12/12/2017)

PELAIHARI POST 電 Sidang pertama kasus pengeroyokan terhadap guru sekolah SDN Pelaihari 7, yaitu Suprihatin disidangkan siang, Selasa (12/12/2017), di Pengadilan Negeri Pelaihari. Sidang, agenda keterangan menghadirkan saksi dan korban, Suprihatin, saksi lainya yaitu, Shanti Mariani dan Eka Rosi Yuniawati. Selaku Hakim ketua dalam persidangan Harries Konstituanto SH, Hakim Anggota lainya yaitu, Poltak SH dan Andika Bimantoro SH. Selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Tanah Laut, yaitu Indra Surya Kurniawan SH.

Keterangan Suprihatin yang menjadi Saksi sekaligus Korban saat itu di depan Majelis Hakim mengatakan kedua terdakwa itu melakukan pemukulan sebanyak dua kali dan mengacak tangannya yang sedang sakit hingga menyebabkan cacat dan mengeluarkan darah. Kedua terdakwa saat ditanya oleh majelis hakim, mengakui perbuatanya apa yang dikatakan oleh Saksi adalah benar.

Berjalanya persidangan saat itu, Hakim Andika Bimantoro SH, selain memeriksa terdakwa juga memberikan nasihat- nasihat kepada kedua terdakwa yakni Mawarti dan Hidayanti. Tentang perbuatannya yang melakukan pengeroyokan terhadap Suprihatin. Hakim ketua Harries Konstituanto SH juga meminta, agar kedua terdakwa untuk minta maaf kepada korban.Suasana pun menjadi berubah haru, ketika kedua terdakwa pada akhir sidang mendekati Suprihatin, keduanya saling berpelukan dan minta maaf, begitu juga Suprihatin ia memaafkan atas perbuatan kedua terdakwa.

Humas Pengadilan Negeri Pelaihari Poltak SH, ia katakan, Dalam setiap persidangan rata rata, Majelis Hakim menghibau kepada Terdakwa, untuk meminta maaf kepada korban, yang mana agar perkara ini agar selesai bukan hanya diputus oleh Majelis Hakim, tetapi perkara ini tidak berlanjut sampai keluar. "Hal yang lumrah kalau Majelis Hakim menyarankan kepada terdakwa untuk meminta maaf dan korban sendiri bersedia untuk memaafkan. Hal, ini bisa saja menjadi pertimbangan Majelis Hakim, tetapi bukan untuk menghapus pidananya, tetapi menjadi pertimbangan bagi Majelis Hakim memutuskan,untuk yang terbik bagi terdakwa," katanya

Poltak SH menyampaikan untuk idang berikutnya akan digelar pada hari senin (18/12/2017) dalam agenda tuntutan dari penuntut unum. Dalam dibacakaan dakwaan didalam berkas dikenakan pasal 170 ayat (2) ke (I) Atau Pasal 170 ayat (2) ke (2). Sama sama penganiayaan yang menyebabkan luka luka atau luka luka berat," tuturnya. Asb.


Berita terkait  
tag:sidang,pengeroyokan,guru,sd,wali murid

HUT PGRI di Tànah Laut Dipusatkan di Desa Batu Mulya
Kamis, 29 November 2018, 00:04:01 wita

Pencanangan Imunisasi Campak dan Rubella di SDN Angsau 4
Jum'at, 03 Agustus 2018, 22:33:10 wita