Pemerintahan
Pembangunan
Kamis, 31 Januari 2019, 23:18:49 wita

PD Baratala Terancam Alami Kerugian Besar akibat Penolakan Truck Pengangkut Bijih Besi Melintas di Desa Pantai Linuh

Share on Google+
Direktur Utama PD Baratala Arief Rahman saat ditemui Pelaihari Post, Kamis (31/01/2019)
Direktur Utama PD Baratala Arief Rahman saat ditemui Pelaihari Post, Kamis (31/01/2019)

PELAIHARI POST 電Sebanyak 10 ribu ton bijih besi direncanakan akan diangkut dari Tambang yang berada di wilayah Desa Pemalongan, Kecamatan Bajuin. Namun saat ini biji besi itu gagal diangkut, lantaran terjadinya penolakan armada pengankut biji besi melintas di Desa Pantai Linuh, Kecamatan Batu Ampar. Sedangkan akses jalan lintasan angkutan biji besi itu sendiri melintasi Desa Pantai Linuh. PD Baratala sendiri selaku pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP ) terancam merugi, jika biji besi itu tidak bisa dikeluarkan dari tambang tersebut.

Direktur Utama PD Baratala Arief Rahman, saat ditemui Pelaihari Post di ruang kerjanya mengemukakan, biji besi itu kalau dijual perolehannya bisa mencapai 7 miliar pertongkang. Dampak kerugian kalau permasalahan ini tidak selesai, akan berdampak ke buyer, yang akan berkurang kepercayaannya ke PD Baratala. "Biji besi di tempat itu lebih unggul ketimbang daerah lain, terutamanya kandungan dan berat biji besi itu lebih bagus " Ucapnya

Biji besi di Wilayah Desa Pemalongan itu, tutur Arief Rahman, merupakan prioritas andalan Kabupaten Tanah Laut. Rata rata hasil biji besi di daerah itu termasuk premium dan bisa dikelola dengan baik hingga menghasilkan pendapatan ke daerah. "Padahal kita ingin memajukan daerah sekitar tambang.Dari Perda sendiri, hasil penjualan biji besi akan masuk ke Pendapatan Daerah sebesar 40 persen dari laba bersih." Ucapnya

Menurut Arief Rahman, sejak tahun 2005 sudah ada kesepakan antara pihak desa dan kontraktor biji besi. Kesepakatan itulah, yang dipegang pihak Kontraktor biji besi, karena adanya pemberian CSR waktu itu yang diberikan ke pihak Desa desa yang dilalui angkutan biji besi pada saat itu. "Di tahun 2015, mulai tidak ada aktivitas pertambangan hingga tahun 2019 ini, hanya tinggal sisa biji besinya saja. Dikerluarkannya izin dari pihak ESDM, biji besi bisa dingkut dan dikeluarkan dari pertambangan. Karena ada izin dari ESDM dan ada pangsa pasar biji besinya.

Maka pihak PD Baratala sendiri merapat kembali ke lokasi tersebut. Namun malah ada penolakan," akunya.

Padahal dengan biji 10 ribu ton, kata Arief Rahman, dalam waktu dua minggu sudah selesai diangkut dan setelah itu tidak ada lagi aktivitas angkutan melintas di Desa Pantai Linuh. "Kita sudah menawarkan ke pihak Desa segala urusan jalan jika ada yang rusak saat ada angkutan biji besi melintas di jalan itu, akan diperbaiki dan PD Baratala sendiri berkomitmen angkutan biji beji melintas di Desa Pantai Linuh, sejak anak anak pulang sekolah sekitar pukul 14.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA," ujarnya.

Arief Rahman,harpakan persoalan ini bisa secepatnya di selesaikan oleh pihak Kepala Daerah."Pihak PD Barata sudah menyampaikan persoalan ini ke Bupati," ucapnya. Asb.

Share on Google+
Foto terkait
Tag
Pembangunan
baratala
bijih besi
pantai linuh